Situbondo, 17 Oktober 2026 – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) membuka peluang besar bagi dunia pendidikan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, interaktif, dan berkualitas. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi S1 Statistika Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 1 Besuki, Situbondo, pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Mengusung tema “SMART LEARNING MODULE: Penguatan Pembelajaran dan Asesmen Digital Berbasis AKM melalui Pendekatan Computational Thinking dan AI for Education bagi Guru SMA Negeri 1 Besuki”, kegiatan ini berfokus pada peningkatan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar siswa.
Program ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 Skema Program Kemitraan Masyarakat Desa Binaan, dengan sumber pendanaan dari Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan ini didasarkan pada Nomor Kontrak Pengabdian kepada Masyarakat 9019/B/DST/UN3.FST/PM.01.01/2026. Kegiatan ini juga selaras dengan program AIRLEARN (Airlangga Inclusive and Resilient Lifelong Education, Access, Resources, and Network), yaitu inisiatif yang berorientasi pada akselerasi pembelajaran sepanjang hayat melalui perluasan akses pendidikan terbuka, peningkatan keterampilan, pemanfaatan teknologi pembelajaran, serta pemberdayaan pendidikan masyarakat.

Program AIRLEARN mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan sehingga masyarakat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kompetensi sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman.
Mendorong Guru Lebih Adaptif terhadap Teknologi
Ketua pelaksana kegiatan, Dita Amelia, S.Si., M.Si., bersama anggota dosen Drs. Suliyanto, M.Si., dan Nania Nuzulita, S.Kom., M.Kom., menginisiasi program ini dengan melibatkan mahasiswa, yaitu Savitri Dwi Ningrum, Tyo Anugrah Putra, serta 8 mahasiswa Prodi S1 Statistika lainnya.
Kegiatan ini dilandasi oleh pentingnya kesiapan tenaga pendidik dalam menghadapi transformasi digital di lingkungan sekolah. Guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi, tetapi juga perlu mengembangkan metode pembelajaran dan asesmen yang mendorong kemampuan literasi, numerasi, berpikir kritis, serta pemecahan masalah.

Melalui pelatihan ini, guru SMA Negeri 1 Besuki dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis agar dapat memanfaatkan teknologi secara tepat guna. Harapannya, teknologi bukan sekadar pelengkap pembelajaran, melainkan menjadi sarana untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan siswa.
AKM, Computational Thinking, dan AI untuk Pendidikan
Rangkaian kegiatan menghadirkan sejumlah materi yang saling melengkapi. Sesi pertama membahas Asesmen Kompetensi Minimum dengan Integrasi Tes Kemampuan Akademik (AKM-TKA) yang disampaikan oleh Dr. Rahmawati, S.T., M.Ed. Materi ini memberikan wawasan mengenai penguatan asesmen untuk mendukung pemetaan kemampuan akademik dan kompetensi siswa.

Selanjutnya, Dita Amelia, S.Si., M.Si., menyampaikan materi tentang Pilar Computational Thinking (CT) dan AI for Education. Pendekatan computational thinking membantu guru merancang soal dan aktivitas belajar yang melatih siswa menguraikan masalah, mengenali pola, menyusun langkah penyelesaian, serta berpikir secara logis dan sistematis.

Sementara itu, pemanfaatan AI dalam pendidikan memberikan alternatif bagi guru untuk mengembangkan ide bahan ajar, menyusun rancangan soal, dan menciptakan media pembelajaran yang lebih menarik. Penggunaan teknologi ini tetap perlu memperhatikan keamanan data, verifikasi informasi, etika, dan peran guru sebagai pengendali utama proses pembelajaran.
Materi berikutnya disampaikan oleh Nania Nuzulita, S.Kom., M.Kom., melalui pemaparan dan pelatihan penggunaan Safe Exam Browser (SEB). Perangkat ini dapat membantu pelaksanaan ujian berbasis komputer dengan membatasi akses ke aplikasi atau halaman lain selama ujian, sesuai konfigurasi yang diterapkan sekolah.

Antusiasme Guru dan Lahirnya SMART LEARNING MODULE
Kegiatan berlangsung dengan baik dan mendapat respon positif dari para guru SMA Negeri 1 Besuki. Antusiasme terlihat ketika peserta menyimak materi, berdiskusi, dan aktif mengajukan pertanyaan pada sesi tanya jawab. Suasana interaktif tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus membahas peluang penerapan teknologi di lingkungan sekolah.

Sebagai salah satu luaran program, kegiatan ini juga diarahkan untuk menghadirkan SMART LEARNING MODULE, yaitu panduan pembelajaran dan asesmen digital yang diharapkan dapat digunakan secara berkelanjutan. Modul ini diharapkan membantu guru menerapkan pengetahuan yang diperoleh, sekaligus mendukung pemerataan kompetensi digital di lingkungan sekolah.
Pada akhir kegiatan, seluruh tim dan peserta membuat video bersama dengan jargon, yang pertama jargon UNAIR (Hebat 3X), jargon Universitas Airlangga (Exellence with Morality), jargon Program Studi Statistika (TOP), jargon SMA Negeri 1 Besuki (Be Master), dan jargon Situbondo (Naik Kelas). Momen tersebut menjadi simbol kebersamaan, kekompakan, dan dokumentasi kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah.
Mendukung SDGs 4 dan SDGs 17
Pengabdian kepada masyarakat ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperluas akses terhadap pendidikan yang relevan dengan perkembangan teknologi. Peningkatan kompetensi guru diharapkan memberikan dampak berkelanjutan terhadap kualitas pengalaman belajar siswa.

Di sisi lain, kegiatan ini mendukung SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara Universitas Airlangga dan SMA Negeri 1 Besuki. Kemitraan perguruan tinggi dan sekolah menjadi langkah strategis untuk berbagi pengetahuan, memperkuat kapasitas pendidik, serta menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ke depan, program ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan semata. Guru dapat terus mengembangkan soal AKM berbasis computational thinking, memanfaatkan AI secara aman dan etis, serta mengelola asesmen digital secara mandiri. Siswa pun diharapkan memperoleh pembelajaran yang semakin berkualitas, sementara sekolah lain di Desa Besuki dan wilayah sekitarnya dapat menjadikan praktik ini sebagai inspirasi.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah, transformasi pendidikan digital dapat dimulai dari langkah nyata: memperkuat kompetensi guru, membuka ruang inovasi, dan membangun ekosistem pembelajaran yang lebih adaptif terhadap masa depan.
*****
